Generasi Z dan Krisis Identitas Digital


Di tengah derasnya arus teknologi informasi dan media sosial, Generasi Z hidup dalam lingkungan digital yang memengaruhi aspek kehidupan mereka. Lahir antara pertengahan 1990-an dan awal 2010-an, generasi ini telah mengenal gawai digital sejak usia dini. 

Dengan demikian, bagi mereka, menggunakan ruang virtual setara dengan aktivitas sehari-hari mereka di dunia nyata. Di tengah keakraban ini, muncul masalah yang semakin besar. Krisis identitas digital. 

Kehidupan yang Paralel

Generasi Z semakin sulit mengenali jati diri mereka yang sebenarnya, sementara mereka berada di dua dunia sekaligus: fisik dan virtual.

Remaja dan dewasa muda kini hidup dalam dua dimensi identitas: identitas asli dan identitas digital mereka. Di dunia nyata, mereka pendiam. Mereka pemalu. Mereka introvert. Namun, lihatlah mereka di media sosial; ekspresif, percaya diri, bahkan provokatif.

Konstruksi persona digital ini sering kali tidak lagi merepresentasikan diri sejati, melainkan menjadi topeng sosial untuk mendapatkan validasi dalam bentuk like, komentar, dan followers.

Ketika eksistensi digital menjadi penentu harga diri, maka realitas menjadi kabur. Proses pencarian jati diri, yang seharusnya berlangsung alami dan reflektif, kini diarahkan oleh algoritma dan tren yang terus berubah.

Dampak Psikologis dan Sosial

Dampak paling nyata dari krisis identitas digital ini adalah hiperkomparasi atau perbandingan sosial yang berlebihan. Karena media sosial menampilkan kehidupan glamor, paling menarik dan paling sesuai, sehingga Gen Z kebanyakan merasa tersisih.

Hal ini membuat mereka tidak cukup baik, atau bahkan menjadi pecundang karena mereka tidak bisa seperti orang lain atau membandingkan diri mereka dengan orang lain di internet.

Beberapa penelitian telah mencatat peningkatan tajam kasus kecemasan, depresi, dan gangguan kesehatan mental terkait citra tubuh di kalangan remaja. Jika harga diri bergantung pada validasi eksternal maka ini sangat membahayakan.

Ketika mereka tidak mendapatkan validasi maka akan mudah goyah dan stabilitas emosional mereka dapat dengan mudah terganggu.

Namun, tidak semua hal digital itu buruk. Dunia digital juga menawarkan peluang baru yang belum pernah ada sebelumnya untuk kreativitas, koneksi lintas dunia, dan kebebasan berekspresi.

Tantangannya bukanlah untuk menjauh dari dunia digital, melainkan untuk menata kembali hubungan dengan dunia tersebut. Pendidikan literasi digital tentu dapat menjadi kunci bagi masalah ini.

 Sayangnya, pendekatan yang selama ini dilakukan masih cenderung teknis dan normatif. Misalnya larangan berlebihan atau aturan-aturan yang mengekang anak. Yang dibutuhkan justru dialog yang jujur, empatik, dan terbuka antara generasi muda dengan orang tua, guru, dan pembuat kebijakan.

Peran Keluarga dan Pendidikan

Keluarga merupakan tempat pertama dan ruang yang paling aman bagi anak untuk tumbuh dan menemukan jati diri mereka. Keterbukaan terhadap perubahan, sekaligus menjaga nilai-nilai utama seperti integritas, empati, dan rasa hormat, sangat penting untuk ditanamkan sejak dini.

Demikian pula, sekolah seharusnya tidak hanya menjadi rumah bagi kegiatan akademis saja, tetapi juga laboratorium sosial untuk pembentukan karakter. Pendidikan harus memfasilitasi siswa dalam mengenali potensi yang ada pada mereka; ini bukan hanya kinerja digital.

Krisis identitas digital tidak pantas ditanggapi dengan paranoia atau teknofobia, melainkan dukungan dan kepercayaan bagi Gen Z untuk menciptakan identitas digital yang sehat, seimbang, dan autentik. 

Di dunia yang semakin terhubung ini, koneksi nyata masih menjadi dambaan bagi banyak orang. Koneksi yang berasal dari realisasi dan penerimaan diri menjadi sangat penting untuk menjadikan mereka makhluk sosial yang bertanggung jawab. 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url