Ngopi di Kafe Mahal demi Deadline yang Gak Pernah Jadi
Ada fenomena yang muncul dan dianggap sebagai ritual suci kaum urban kreatif: ngopi di kafe mahal sambil ngerjain deadline yang entah kapan selesainya. Di kafe itulah semua mimpi besar sedang dimulai dan kebanyakan berhenti di sana juga.
Dengan berbekal laptop, headset, dan niat 30%, para pejuang konten, startup, dan skripsi berkumpul di meja-meja estetik.
Mereka dikelilingi tanaman hias yang indah, lagu indie menyentuh hati dan aroma kopi seharga paket data sebulan. Katanya sih, biar lebih fokus dan berkelas. Tapi kenyataannya? Entahlah!
Fokus ke Latte, Lupa ke Tugas
Seseorang duduk di pojok dekat jendela dengan secangkir koi latte. Laptop terbuka, tatapan mata terlihat sangat fokus. Jendela Excel terbuka dan tangan lima jari sibuk mengetik. Semua terlihat sangat profesional, sampai kamu lihat tab selanjutnya adalah layar TikTok terbuka di HP.
Deadline? Masih utuh, belum tersentuh. Tapi tenang. Yang penting vibes-nya produktif. Mereka percaya bahwa semakin mahal harga kopinya, semakin besar kemungkinan idenya muncul.
Sayangnya, kreativitas tidak selalu bisa dibeli dengan secangkir kopi an roti bakar. Nyatanya idenya tetap kosong dan tugas-tugas juga belum kelar.
Panggung Para Deadline Warrior
Kafe kini bukan lagi sekadar tempat nongkrong atau bersantai menikmati hidup. Ia sekarang telah berevolusi menjadi ruang kerja umum yang berkelas.
Di sana ada harapan dan kerja keras, namun portofolio yang disusun dengan penuh gaya tersebut tidak pernah dikirim ke siapa-siapa.
Para pengunjungnya terbagi ke dalam beberapa kasta. Pertama, kaum Laptop terbuka: Biasanya hanya buka Google Docs berjudul "Ide Brilian", isinya masih kosong.
Kedua, kaum Podcast-Sambil ngetik: Multitasking level dewa, padahal otak sudah lemot sejak paragraf pertama. Ketiga, kaum Buka Canva: Desain feed IG sambil mengeluh, "gue tuh sebenarnya capek banget hari ini."
Keempat, kaum Selfie, tetapi kerja belakangan. Mereka sangat fokus pada pencahayaan natural untuk story, bukan kualitas kontennya. Deadline yang katanya "udah mepet banget" itu sebenarnya sudah mepet sejak tahun lalu.
Harga Kopi, Rasa Kejar Target
Satu gelas kopi bisa seharga Rp60.000, tetapi nilai tambahnya bukan pada rasa dan bukan juga pada kafeinnya. Melainkan hak istimewa itu adalah terlihat sibuk dan kreatif di ruang publik.
Satu foto di kafe bisa menunjukkan ke dunia bahwa kamu: "Masih produktif, guys!"
"Lagi hustle, bukan leha-leha" atau "lagi ngopi sambil kerja, bukan pengangguran!" Algoritma harus dipuaskan dulu sebelum Google Docs dibuka.
Deadline: Janji yang Dilanggar Berkali-kali
Deadline itu seperti mantan yang sangat toxic. Kita tahu dia menyakitkan, tapi selalu didekati lagi dengan harapan bisa berubah. Awalnya bilang: "Gue bakal selesain ini minggu ini." Padahal minggu lalu berkata: "Minggu depan fix kelar."
Tiba-tiba saja sudah bulan depan, dan satu-satunya yang bertambah hanyalah jumlah kunjungan ke kafe, bukan jumlah halaman tugas.
Kafe bukan tempat produktif lagi, tapi tempat pengalihan. Setiap kunjungan ke kafe adalah bentuk negosiasi damai dengan rasa bersalah: "Oke gue belum kerja, tapi kan udah niat."
Ada juga yang mengatakan: "Skripsi semester ini harus selelsai," nyatanya sudah 12 semester gak lulus-lusus. Capek kan!
Produktifitas Rasa Estetik
Kenapa harus di kafe mahal? Kenapa tidak di rumah, di warung kopi biasa, atau bahkan di ruang perpustakaan kampus yang gratis? Karena jawabannya satu: branding.
Bekerja di rumah itu biasa dan mengerjakan skripsi di rumah itu melelahkan. Namun bekerja di kafe dengan interior minimalis, dinding bata ekspos, dan meja kayu rustic? Itu estetik. Itu produktif versi lifestyle content.
Yang penting kelihatan sibuk dulu, walaupun sebenarnya sedang mengalami kebingungan kreatif akut.
Siklus yang Tak Pernah Putus:
- Punya deadline
- Bingung di rumah
- Pergi ke kafe
- Pesan kopi mahal
- Duduk 2 jam, ngetik 2 kalimat
- Scroll TikTok 1 jam
- Pulang dengan rasa puas palsu
- Ulangi lagi besok
Ini adalah siklus sakral yang dilestarikan oleh banyak pekerja lepas, mahasiswa akhir, penulis konten, dan bahkan manajer media sosial.
Karena ya, kalau bukan di kafe, di mana lagi bisa berpura-pura sukses dengan wajah penuh beban dan hati yang gelisah.
Deadline? Gak Usah Jadi, yang Penting Terlihat Mau Jadi
Kita hidup di zaman di mana niat dihargai sama besarnya dengan hasil. Bahkan terkadang, niat yang estetik bisa lebih dipuji dibanding kerja nyata yang biasa saja.
Jadi kalau kamu merasa gagal karena belum menyelesaikan deadline-mu, tenang. Kamu gak sendirian kok. Di luar sana, banyak juga yang menyelesaikan satu tulisan dalam lima kali kunjungan ke kafe berbeda.
- Yang penting kamu sudah ngopi mahal.
- Laptop sudah dibuka.
- Story WA dan Instagram sudah di post.
- Deadline bisa nyusul. Mungkin. Suatu saat. Entah kapan.
